Mandat Kekuasaan Bukan Soal Kuasa, Tetapi Kebijaksanaan

Mandat Kekuasaan Bukan Soal Kuasa, Tetapi Kebijaksanaan

irwan
By -
0

Di tengah menguatnya kritik publik terhadap praktik kekuasaan yang kerap menjauh dari kepentingan rakyat, sebuah pesan reflektif kembali mengemuka. Melalui poster resmi yang beredar, Ketua Umum Partai PRIMA, Agus Jabo Priyono, menyampaikan penegasan penting: mandat politik bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang hikmah dan kebijaksanaan untuk membebaskan rakyat dari penderitaan hidup. 

Pesan tersebut tidak hadir dalam ruang hampa. Ia muncul di tengah realitas sosial yang memperlihatkan masih lebarnya jarak antara janji politik dan keseharian masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, ketimpangan akses pendidikan dan kesehatan, serta persoalan lapangan kerja menjadi potret yang belum sepenuhnya terjawab oleh negara. 


Dalam konteks inilah, narasi tentang kekuasaan yang berorientasi pada keadilan dan kemakmuran menemukan relevansinya.
“Kita akan terus hidup dan bergerak, karena kita lahir untuk berjuang,” demikian salah satu kutipan dalam poster tersebut. 

Kalimat ini mengandung makna ideologis bahwa politik seharusnya dipahami sebagai proses perjuangan kolektif, bukan sekadar kompetisi elektoral atau perebutan jabatan. Perjuangan itu diarahkan untuk mewujudkan kehidupan dunia yang adil, makmur, dan damai—tiga nilai yang kerap diucapkan, namun tidak selalu diwujudkan secara konsisten dalam kebijakan. 

Penekanan bahwa mandat kekuasaan harus dijalankan dengan kebijaksanaan juga menjadi kritik implisit terhadap praktik politik yang cenderung elitis. Dalam banyak kasus, kekuasaan justru melahirkan jarak, bahkan menambah beban rakyat melalui kebijakan yang tidak berpihak. Padahal, mandat politik sejatinya bersumber dari rakyat dan harus kembali kepada rakyat dalam bentuk perlindungan, pelayanan, dan keberpihakan nyata. 

Poster tersebut juga menggarisbawahi tujuan akhir dari perjuangan politik: membebaskan rakyat dari segala penderitaan hidup dan membuat mereka bisa tersenyum bahagia. Pernyataan ini sederhana, tetapi sarat makna. Kebahagiaan publik bukanlah jargon abstrak, melainkan indikator konkret dari keberhasilan negara dalam menjamin hak-hak dasar warganya. 

Dalam perspektif komunikasi politik, pesan ini mencoba menggeser narasi kekuasaan dari simbol dominasi menjadi tanggung jawab moral. Kekuasaan tidak ditempatkan sebagai alat mengendalikan, melainkan sebagai amanah untuk melayani. Pendekatan semacam ini penting, terutama di era ketika kepercayaan publik terhadap institusi politik mengalami erosi. 

Tentu, pesan moral saja tidak cukup. Publik menuntut konsistensi antara kata dan tindakan. Nilai hikmah dan kebijaksanaan yang disampaikan harus diterjemahkan ke dalam sikap politik, keberanian membela kepentingan rakyat kecil, serta kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial. Tanpa itu, pesan sekuat apa pun akan berhenti sebagai retorika visual. 


Namun demikian, di tengah hiruk pikuk politik yang sering keras dan transaksional, pesan seperti ini layak dicatat. Ia mengingatkan kembali bahwa esensi politik bukanlah menang atau berkuasa semata, melainkan memastikan rakyat hidup lebih layak dan bermartabat. 

Memang tidak mudah, seperti diakui dalam poster tersebut. Tetapi keyakinan bahwa “kita pasti bisa” adalah energi yang dibutuhkan untuk terus menagih dan mengawal arah perjuangan politik ke jalur yang benar. (***)
Tags:

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)